Jumat, 04 Juli 2014

Hubungan antara penguasaan Tajwi dan Tilawah alur'an denggan hasil belajar alQur'an Hadits



v  HUBUNGAN ANTARA PENGUASAAN TAJWID DAN TILAWAH AL QUR’AN DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MAN I KENDARI  PADA BIDANG  STUDI  AL-QUR’AN DAN HADITS
                                          OLEH     :  Abdul Rauf

Latar  Belakang Masalah
Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua sumber ajaran Islam dan pedoman hidup bagi umat Islam. Keduanya mengajarkan prinsip-prinsip dan tata aturan kehidupan yang harus dijalankan oleh umatnya, tidak hanya terkait dengan tata hubungan manusia dengan Rabbnya (Hablun minallah) tetapi juga tata aturan dalam kehidupan dengan sesama manusia (Hablun minannas).[1] Al-Qur’an merupakan wahyu, kalam atau firman Allah yang mengandung ajaran untuk dijadikan pedoman dan tuntunan dalam tata nilai kehidupan umat manusia dan seluruh alam, karena pada dasarnya al-Qur’an diturunkan sebagai rahmat bagi alam semesta. Ajarannya berlaku sepanjang masa, sejak diturunkan hingga hari kiamat. Kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak dapat diragukan lagi, karena Allah sendiri yang akan menjaganya.

Mempelajari al-Qur’an dan Hadits bagi orang yang beriman adalah merupakan suatu kewajiban. [2]Hal ini dapat dilihat surah 38/ Shad ayat  29  :
ë=»tGÏ.            çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭£‰u‹Ïj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.x‹tFuŠÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ( ص : 29  )
      ” Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka  memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”( Q.S.Shad ayat 29).

      Ayat tersebut di atas mermerintahkan orang-orang beriman agar memikirkan ayat-ayat al-Qur’an dan memerintahkan orang-orang yang mempunyai pikiran agar mengambil peringatan dan pelajaran dari padanya. Rasulullah Saw. menganjurkan  kita untuk mempelajari al-Qur’an sebagaimana haditsnya:                                                                                     
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْانَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخا ري)
          Sebaik- baik kamu adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain” (HR. Bukhari).[3] 
                                                     
Dalam konteks mempelajari  al-Qur’an, maka sangat dibutuhkan alat ilmu yang dapat mengantarkan kepada pemahaman dan penafsiran al-Qur’an yang tepat. Dalam hal ini  ilmu tata cara pengucapan dan ilmu cara membaca tata cara pengucapan al-Qur’an tersebut.  Mengingat ilmu tersebut merupakan bagian  ilmu atau  cabang  dari pada ilmu al-Qur’an yang sangat besar peranannya dan menentukan benar tidaknya bacaan seseorang ketika membaca al-Qur’an. Bagian ilmu yang dimaksudkan  diantaranya adalah ilmu tajwid. Oleh karena itu seseorang yang belum mengetahui ilmu tajwid atau belum menguasainya akan sulit terhindar dari kesalahan membaca al-Qur’an.
 Kualitas spiritual siswa terlihat dari kefasihan dalam membaca al-Qur’an siswa pada kegiatan rutin tadarus al-Qur’an di awal pembelajaran dan kekhusyu’an dalam kegiatan shalat dhuhur berjama’ah. Sedangkan peningkatan kualitas intelektual terlihat dari meningkatnya perolehan hasil belajar baik nilai ujian sumatif maupun ujian akhir nasional (UAN) siswa, sehingga jumlah alumni Madrasah Aliyah Negeri I Kendari yang diterima di perguruan tinggi Islam Negeri semakin banyak.
Di sisi lain, dibalik peningkatan hasil belajar sebagaimana dijelaskan di atas, juga tidak dipungkiri adanya kesenjangan-kesenjangan yang berhubungan dengan pembelajaran tajwid, tilawah al-Qur’an dan al-Qur’an dan Hadits pada siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari, sebagai berikut. (1) Data penerimaan Siswa Baru
 (PSB) Madrasah Aliyah Negeri I Kendari tahun pembelajaran 2011/2012, terdapat sekitar 25% sampai 30 % siswa baru yang diterima dengan kategori kenal huruf (masih belajar IQRO’).  Hal ini disebabkan karena calon siswa yang diterima mendaftar bukan saja  berasal dari  sekolah keagamaan atau Madrasah Tsanawiyah, tetapi termasuk dari  sekolah umum atau Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ( SLTP) dan yang sederajat, bahkan dari tamatan paket B. (2) Hasil observasi awal dan data dari Team Baca Tulis al-Qur’an (BTQ),  guru bidang studi al-Qur’an dan Hadits, guru  tajwid, dan guru tilawah, menyampaikan laporannya pada pertemuan rutin guru MAN I Kendari, bahwa terdapat sekitar 40 % siswa  kelas X yang belum fashih membaca al-Qur’an. Data  yang dilaporkan tersebut dari pengamatan langsung guru bidang studi  di kelas tempat mengajarnya. (3) Data yang bersumber dari  wakil madrasah urusan kurikulum bahwa nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya nilai tajwid, nilai tilawah al-Qur’an, dan al-Qur’an dan hadits masih sangat rendah bila dibandingkan dengan nilai mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini, prosentase jumlah siswa yang mengikuti program remedial pada tiga bidang studi tersebut masih sangat tinggi. (4) Adanya keluhan guru bahasa Arab pada kelas X  dalam mengajarkan huruf, kata, dan kalimat bahasa Arab, karena siswa kurang lancar rmembaca al-Qur’an.[4]
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas, serta untuk mengetahui ada tidaknya hubungan penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an  dengan  hasil  belajar siswa, maka mendorong penulis  melakukan penelitian dan menuangkan dalam bentuk tesis  dengan mengambil judul “Hubungan Antara Penguasaan Tajwid dan Tilawah  al-Qur’an  dengan  Hasil Belajar Siswa Kelas X MAN I Kendari pada Bidang Studi  al-Qur’an dan Hadits”

                               Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
Identifikasi  Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut.
a)      Proses pembelajaran tajwid pada tingkat madrasah masih disajikan secara terpisah dengan mata pelajaran lainnya. Pembelajaran tajwid deisajikan hanya menuntut adanya peningkatan kemampuan kognisi tentang ilmu tajwid itu sendiri. Akibatnya, siswa hanya diajarkan teori atau defenisi yang harus dikuasai tanpa menghiraukan adanya praktik. Harapannya, agar siswa dapat meningkatkan kompetensi terhadap pengetahuan tajwid baik secara teori maupun praktik. Namun yang terjadi sebaliknya, siswa kebanyakan hanya menghafal teorinya tetapi tidak mampu merealisasikan bacaan yang tepat ketika membaca al-Qur’an.
b)      Tilawah al-Qur’an sebagai mata pelajaran muatan lokal dalam penyajian materinya masih menekankan penguasaan lagu secara teoritik. Dalam hal ini, unsur-unsur pada pembacaan al-Qur’an menjadi terabaikan. Ketidakselarasan antara tata cara pengucapan (tajwid) dengan cara membaca tata cara (tilawah) mengakibatkan siswa hanya dapat menguasai nada dan irama yang diajarkan kepadanya secara semu. Dengan perkataan lain, pembelajaran Tilawah al-Qur’an pada Madrasah Aliyah Negeri I Kendari belum terlaksana secara optimal.
c)      Bidang studi al-Qur’an dan Hadits merupakan pelajaran yang didalamnya membahas potongan-potongan ayat al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, penyajian materinya dapat dilakukan secara terintegral dengan pembelajaran tajwid dan tilawah al-Qur’an. Kondisi tersebut masih kurang mendapatkan perhatian yang serius dari guru pendidikan agama Islam, khususnya guru bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih fokus, diperlukan pembatasan masalah penelitian.  Untuk itu penelitian ini dibatasi dengan masalah hubungan antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa kelas  MAN I Kendari.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah di atas,  maka penulis merumuskan  sebagai berikut.
1) Apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits ?
2) Apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits ?
 3) Apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari pada bidang studi al-Qur’an  dan Hadits ?

                                   Tujuan  dan  Manfaat Penelitian
      Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara  penguasaan tajwid dan  tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
       Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tentang hubungan antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari pada bidang studi al-Qur’an dan Hadit, diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
       a. Manfaat Teoritis - Akademis
        1)  penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pengembangan
            ilmu pendidikan, khususnya kajian pendidikan al-Qur’an dan Hadits.
  2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh peneliti lain sebagai bahan                acuan dan pembanding dalam mengkaji lebih lanjut tentang penguasaan tajwid dan       tilawah al-Qur’an dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada        bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
       b. Manfaat Praktis - Pragmatis 
1) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi instansi pendidikan    terkait pada umumnya dan Madrasah Aliyah Negeri  I Kendari pada khususnya, dalam usaha penyempurnaan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an demi tercapainya peningkatan hasil  belajar siswa dalam pendidikan Agama Islam, terutama pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
2)   Memberi masukan kepada guru ilmu tajwid dan tilawah al-Qur’an MAN I      Kendari agar menekankan pembelajaran yang berorientasi pada upaya       peningkatan hasil belajar siswa. Khususnya terhadap bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
3)   Memberi masukan kepada guru al-Qur’an dan Hadits  pada MAN I Kendari agar       dapat merancang pembelajaran untuk memotivasi siswa dalam mengembangkan potensi dirinya secara maksimal terutama penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an dalam meningkatkan hasil belajar pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan penulisan dalam pembahasan tesis, penulis menggunakan sistematika sebagai berikut.
BAB  I Pendahuluan, yang berisi  latar belakang masalah, identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,  sistematika penulisan tesis.
BAB  II  Berisi  kajian putaka terdiri dari al-Qur’an dan Hadits, penguasaan tajwid, penguasaan tilawah al-Qur’an, hasil belajar, bidang studi al-Qur’an dan Hadits, penelitian terdahulu yang relevan, krangka pemikiran, hipotesis penelitian.
BAB  III Metodologi Penelitian, yang berisi waktu dan tempat penelitian metode penelitian, populasi dan sampel, instrument, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
BAB   IV Hasil Penelitian  yang berisi penyajian data, pengujian persyaratan analisis, pengujian hipotesis, dan  Pembahasan penelitian.
BAB  V Penutup, berisi kesimpulan, implikasi, rekomendasi, daftar pustaka, lampiran.

Kajian Pustaka
a.      Al- Qur’an dan Hadits
    Secara leksikal, kata qur’an mengandung arti “bacaan” dan baru pada perkembangan kemudian dianggap merujuk kepada arti “teks yang dibaca” Al-Qur’an kerap menyebut dirinya sebagai kitab, yang secara leksikal berarti “tulisan” dan kemudian dianggap mengandung arti” tulisan berupa buku.” Dengan demikian, makna penting membaca dan menulis kitab wahyu telah ditekankan sejak awal permulaan Islam, dan melekat kuat pada kata benda yang mencerminkan arti al-Qur’an.[5]  Menurut hemat penulis. kata al-Qur’an termasuk kesatuan  fonem atau  bunyi bahasa dalam bentuk leksen  atau kata (tulisan) yang mengandung makna. Kata (tulisan) tersebut dilafadzkan (diucapkan) sebagai bacaan[6]. Kata al-Qur’an berasal dari kata dasar qur’an mendapat prefiks al membentuk kata al-Qur’an artinya membaca/bacaan. Bacaan yang menggunakan bahasa Arab yang mengandung sastra yang sangat tinggi dan meliputi segala segi. Bahkan al-Qur’an mempunyai gaya bahasa khas yang tidak data ditiru para sastrawan sekalipun. Hal ini disebabkan oleh susunannya yang indah, kalimat-kalimatnya yang menakjubkan, dan berlainan dengan setiap susunan kata atau kalimat dalam bahasa Arab.[7]
Al-Qur’an secara bahasa berasal dari akar kata qara-a yang berarti talaa (membaca/bacaan), karena al-Qur’an merupakan ajaran yang dibaca. Sedangkan menurut istilah, al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan diamalkan sebagai petunjuk/ pedoman hidup bagi umat manusia.[8] Menurut hemat penulis, bahwa   al-Qur’an pada intinya berisi tiga induk ilmu. Ketiga induk ilmu itu dalam al-Qur’an  yaitu : Tauhid, Tadzkir (peringatan), dan hukum. Oleh karena itu, al-Qur’an tuntunan yang paling sempurna, dapat mengatur kehidupan dunia dan akhirat. Demikian juga  kehidupan masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Dengan dasar itu, maka al-Qur’an menjadi pedoman hidup bagi orang mukmin.
b.       Penguasaan Tajwid
Tajwid berasal dari bahasa Arab  - يُجَوّدُ- جَوَّدَة- جَادَ  yang berarti baik, kemudian berubah setimbang dengan  يُجَوّدُ- تَجْوّيدً- جَوَّد   yang berarti membaguskan atau membuat bagus. Sedangkan menurut istilah adalah ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum mad, dan sebagainya.[9]  Tajwid menurut hemat penulis adalah ilmu yang digunakan untuk membaca al-Qur’an secara sempurna. Alat ilmu untuk membetulkan atau membaguskan bacaan al-Qur’an. Ilmu yang mengatur hubungan cara pengucapan al-Qur’an dengan makna yang diucapkan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tajwid adalah cara membaca al-Qur’an dengan lafal atau ucapan yang tepat[10].Sedangkan menurut Muhammad Tsathir Ahmad[11] yang dikutip oleh Ali, kata tajwid dalam ilmu bahasa artinya “memperindah atau memperbaiki”. Adapun  tajwid menurut istilah seperti dikemukakan Sabirin ialah “ ilmu pengetahuan untuk mempelajari cara-cara sebagaimana membunyikan huruf yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an”. Sedangkan ilmu tajwid menurut H.Adnan Yahya dalam bukunya Tajwid Al-Qur’an, bahwa tajwid adalah pengetahuan yang dibicarakan pada cara membaca al-Qur’an menurut yang sebenarnya dari pada hukum-hukumnya, seperti : اظهار- (Idzhar), اقلاب  (Iqlab),ادغام  (Idqam),اخفاء (Ighfa).  Jalaluddin as-Suyutiy yang dikutip oleh Wahyudi[12], memberikan pengertian tentang tajwid sebagai berikut: Memberikan huruf akan hak-haknya dan tertibnya, mengembalikan huruf kepada makhraj dan asal (sifatnya) serta menghaluskan pengucapan dengan cara yang sempurna tampa berlebih-lebihan, serampangan, tergesa-gesa dan dipaksakan.
 Demikian juga Abdullah Asy’ari menerangkan bahwa ilmu tajwid adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya membunyikan huruf-huruf dengan betul, baik huruf yang berdiri sendiri maupun huruf dalam rangkaian.[13] Ilmu tajwid menurut hemat penulis adalah ilmu yang mengatur tentang keberadaan huruf, kata, dan kalimat dalam al-Qur’an.
Dengan demikian dapatlah didefenisikan bahwa ilmu tajwid itu adalah cara membaca al-Qur’an dengan baik dan tertib menurut makhraj hurufnya, seperti yang keluar dari kerongkongan, melalui lidah, bibir dan sebagainya dan memberikan hak huruf yaitu panjang dan pendeknya, tebal tipisnya, berdengun tidaknya serta ibtida’ dan wakafnya sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa tajwid merupakan alat ilmu yang digunakan untuk menyempurnakan bacaan al-Qur’an.



             
c.       Penguasaan Tilawah  Al-Qur’an
Tilawah berasal dari kata تلا- يَىْتلو – تِلَاوَة yang berarti membaca atau menelaah .. Kata Tilawah terdapat di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 121:
tûïÏ%©!$# ãNßg»oY÷s?#uä |=»tGÅ3ø9$# ¼çmtRqè=÷Gtƒ ¨,ym ÿ¾ÏmÏ?urŸxÏ? "
“Orang-orang yang telah kami berikan al-Kitab (al-Qur’an) kepada                                                                              mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya

                  Abul Aliyah dalam tafsir Ibnu Katsir, mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud pernah berkata[14], demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya yang dimaksud dengan membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, adalah menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya serta membacanya sesuai denggan apa yang diturunkan oleh Allah Ta’ala, tidak mengubah kalimat dari tempatnya, dan tidak menafsirkan satu kata pun dengan penafsiran yang tidak seharusnya. Menurut hemat penulis bahwa membaca al-Qur’an dengan sebenarnya adalah membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid dan tilawah al-Qur’an. Dalam hal ini, membaca al-Qur’an dengan mengucapkan huruf dengan benar, memahami artinya, dan meresapi maknanya dalam hati. Dengan perkataan lain bahwa mengikutsertakan lisan, akal, dan hati ketika membaca al-Qur’an.
Dengan demikian maka istilah tilawah al-Qur’an dapat diartikan bacaan atau pembacaan. Pengertian tersebut berkaitan dengan makna yang dimaksud sebagaimana Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, bahwa tilawah adalah pembacaan ayat al-Qur’an dengan baik dan indah.
Kata tilawah memiliki padanan kata dengan Qiraat yang juga berarti bacaan, yang kata asalnya “qaraa” berarti membaca. Menurut istilah ahli al-Qur’an, ilmu qiraat yaitu suatu pengetahuan tentang tata cara pengucapan kalimat atau ayat-ayat al-Qur’an baik yang disepakati maupun yang terjadi perbedaan yang disandarkan kepada seorang imam Qiraat[15]. Jadi Qiraat adalah bentuk pengucapan kata atau kalimat al-Qur’an yang di dalamnya termasuk perbedaan-perbedaan dialek yang bersumber pada Rasulullah Saw. Antara  tajwid dan qiraat/tilawah walaupun secara lahiriyah Nampak berbeda, namun keduanya merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Tiap qiraat/tilawah yang disandarkan pada seorang imam tetap memiliki kaidah-kaidah tertentu bagaimana cara mengucapkan yang baik (tajwid). Begitupula sebaliknya, Tiap kaidah untuk membaguskan pengucapan ayat al-Qur’an tentu menurut qiraat/tilawah atau bacaan yang disandarkan pada seorang imam. Dengan demikian dapat diringkas bahwa qiraat/tilawah membahas mengenai bentuk-bentuk pengucapan sedang tajwid membahas mengenai cara bagaimana mengucapkan bentuk-bentuk tersebut dengan baik.
                  Dalam konteks ini, qiraat/tilawah al-Qur’an yang dimaksudkan berkaitan dengan naghamul Qur’an (melagukan al-Qur’an). Nagham berarti lagu dalam konteks memperindah suara dalam membaca al-Qur’an (( حُسْنُ الصَّوْةِ بِالْقِرَاءَةِ .[16] Lagu-lagu ini biasanya diungkapkan dalam tausyih yakni melagukan sejumlah kalimat syair sebatas patokan alunan suara tentang nada suatu lagu.

 Hipotesis  Penelitian
     Penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an memiliki hubungan  dengan  hasil  belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
Berdasarkan asumsi atau anggapan yang telah dijelaskan di atas, maka penulis merumuskan hipotesa dalam penelitian ini sebagai berikut.
1.    Hipotesis pertama      HI :    1 >  0,
    “Terdapat hubungan  positif antara  penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa
        pada  bidang studi al-Qur’an dan Hadits.”
2.     Hipotesis kedua       HI : 2  > 0,
      ”Terdapat hubungan positif  antara penguasaan tilawah al-Qur’an dengan   hasil
         belajar siswa pada  bidang studi al-Qur’an dan Hadits.”
3.    Hipotesis ketiga       HI : 1 2  > 0,
     ” Terdapat hubungan positif  antara pengusaan tajwid dan tilawah al-Qur’an secara
       bersama-sama dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.”


                                         METODOLOGI  PENELITIAN
      Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanalakan di  Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara pada  Kelas X semester ganjil. Penelitian ini dilakukan untuk  menguji hubungan penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an dengan  hasil belajar siswa pada  bidang studi al-Qur’an dan Hadits  di Madrasah Aliyah.
Metode Penelitian
                  Jenis metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Sedangkan metode penelitian kuantitatif yang digunakan adalah kuantitatif korelasional.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah semua siswa Kelas  X Madrasah Aliyah Negeri I Kendari yang terdiri dari delapan kelas  (paralel) 242 siswa. Sampel sebanyak 35 siswa.
 Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas  dokumen  hasil tes  penguasaan tajwid, penguasaan tilawah al-Qur’an dan hasil belajar  al-Qur’an dan  Hadits.
 Teknik  Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan cara pengumpulan data melalui  dokumen hasil tes penguasaan tajwid, penguasaan tilawah al-Qur’an, dan tes hasil belajar al-Qur’an dan Hadits. Hal itu dilakukan untuk melihat hubungan penguasaan-penguasaan tersebut terhadap hasil  belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits. Data yang berupa hasil tes tersebut, dikomfirmasikan dari daftar nilai kolektif masing-masing bidang studi  (ilmu tajwid, tilawah al-Qur’an, dan al-Qur’an dan Hadits) pada  kelas X. Teknik pengumpulan data ini  dilakaukan dengan cara menentukan atau menetapkan secara acak siswa setiap kelas sebagai perwakilan dari delapan kelas yang ada untuk diambil nilainya..
Teknik  Analisis Data
Teknik  analisis data yang dipakai dalam penelitian kali ini akan menggunakan analisis  korelasi. Dalam penelitian kali ini, terdiri atas dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Dalam hal ini yang menjadi variabel bebas atau variabel (X1) adalah pengusaan tajwid dan pengusaan tilawah al-Qur’an (X2), sedangkan variabel terikat atau variabel Y adalah  hasil  belajar bidang studi al-Qur’an dan Hadits. Data-data tersebut akan dilakukan pengujian untuk mengetahui adanya hubungan atau korelasi antara variabel-variabel tersebut.  Jenis uji hubungan yang akan digunakan adalah analisis uji hubungan dengan regresi dan korelasi linier ganda.[17]
Rumusan hipotesis:
1.      H0 :   1  =  0
 Artinya tidak terdapat hubungan positif antara penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
       HI :    1  >  0
 Artinya   terdapat  hubungan  positif  antara  pengusaan  tajwid dengan  hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan  Hadits.

2.    H0 :     2   =  0, 
Artinya  tidak  terdapat  hubungan  positif  antara pengusaan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
                  HI :     2    >  0,   
 Artinya terdapat hubungan positif antara penguasaan tilawah al-                            Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan  Hadits.
3.                  H0 : 1 2  =  0
Artinya  tidak  terdapat  hubungan  positif  antara  penguasaan  tajwid dan   tilawah   al-Qur’an   secara  bersama-sama  dengan  hasil  belajar  siswa  pada bidangstudi al-Qur’an dan Hadits.
              HI : 1 2  > 0
 Artinya  terdapat  hubungan positif antara penguasaan tajwid dan tilawah   al-Qur’an  secara bersama-sama dengan  hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits

HASIL  PENELITIAN  DAN  PEMBAHASAN
Penyajian data
1)      Penguasaan tajwid (X1)
2)      Penguasaan tilawah al-Qur’an (X2)
3)      Hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an  dan Hadits  (Y).

           Pengujian Persyaratan Analisis
a.       Uji Normalitas
b.      Uji linearitas
c.       Multikolinearitas
d.      Uji heteroskedastisitas
e.       Uji Autokorelasi
Pengujian persyaratan analisis, hasilnya memenuhi persyaratan yang dituntut dalam pengujian hipotesis penelitian ini.

      Pengujian Hipotesis
a.       Hubungan antara penguasaan tajwid (X1) dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan (Y)
Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah “terdapat hubungan positif antara penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.” Secara statistik hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :  H0   : 1   =  0
    H1   : 1   >  0
Dengan kata lain diduga bahwa semakin tinggi penguasaan tajwid maka semakin tinggi hasil belajar siswa, dan sebaliknya semakin rendah penguasaan tajwid semakin rendah pula hasil belajar siswa. Untuk menguji hipotesis penelitian ini maka digunakan analisis regresi linear sederhana dan analisis korelasi sederhana.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear sederhana antara pasangan data penguasaan tajwid (X1)  dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan (Y), maka diperoleh nilai koefisien regresi (b) sebesar 0.847 dan nilai konstanta (a) sebesar 11,712. Dengan demikian maka bentuk hubungan antara variabel penguasaan tajwid dengan variabel hasil belajar siswa dapat juga ditunjukkan dengan persamaan regresi linear sederhana Ŷ= 11,712+0,847X1.
Persamaan regresi tersebut menunjukkan bahwa telah ada potensi hasil belajar sebesar 11,712 tanpa dipengaruhi oleh variabel penguasaan tajwid. Persamaan regresi tersebut diartikan bahwa setiap kenaikan satu satuan skor variabel penguasaan tajwid maka akan diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa sebesar 0,847. Sedangkan  pengujian tersebut di atas juga menunjukkan koefisien korelasi R sebesar 0,737 kofisien tersbut signifikan karena setelah diuji dengan F-tes diperoleh harga  F sebesar 39,152 dengan signifikan 0,00 dimana  pada taraf signifikan (α) = 0,05, artinya  H0  ditolak.
  Dengan demikian dapat dikatakan  bahwa terdapat hubungan yang positif antara penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
b.      Hubungan antara penguasaan tilawah al-Qur’an (X2) dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan (Y)
Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Terdapat Hubungan Positif antara penguasaan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.”
Secara statistik hipotesis tersebut dirumuskan sebagai berikut :
    H0    :  ρy2  =  0
          H1       :  ρy2   >  0
Dengan kata lain diduga bahwa semakin tinggi penguasaan tilawah al-Qur’an, maka semakin tinggi hasil belajar siswa, dan sebaliknya semakin rendah penguasaan tilawah al-Qur’an maka semakin rendah hasil belajar siswa. Untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan analisis regresi linear sederhana dan analisis korelasi sederhana.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear sederhana antara pasangan data penguasaan tilawah al-Qur’an (X2) dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan (Y) maka diperoleh nilai koefisien regersi (b) sebesar 0,700 dan nilai konstanta (a) sebesar 22,054. Dengan demikian maka bentuk hubungan antara variabel penguasaan tilawah al-Qur’an dengan variabel hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dengan persamaan regresi linear sederhana  Ŷ = 22,054 + 0,700X2. Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu unit skor penguasaan tilawah al-Qur’an, maka akan diikuti oleh kenaikan skor variabel hasil belajar siswa sebesar 0,700. Selain itu, dijelaskan pula bahwa telah ada potensi hasil belajar siswa sebesar 22,054 tanpa dipengaruhi penguasaan tilawah al-Qur’an. Sedangkan hasil pengujian tersebut di atas juga menunjukkan koefisien korelasi R sebesar 0,688. Kofisien tersebut signifikan karena setelah diuji dengan F-test diperoleh harga F sebesar 29,647 dan signifikan 0,00 dimana pada taraf signifikan (α) =0,05 berarti H0  ditolak. Dengan demikian, maka terdapat hubungan positif antara penguasaan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qu’an dan Hadits.
c.        Hubungan Penguasaan Tajwid (X1) dan Tilawah Al-Qur’an (X2) Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Bidang Studi Al-Qur’an dan (Y)
Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Terdapat Hubungan Positif antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits” Secara statistic hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
 H0             : ρy2 = 0
             H1                 :  ρy2 > 0
Dengan kata lain diduga bahwa semakin tinggi penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an maka semakin tinggi hasil belajar siswa, demikian sebaliknya bahwa semakin rendah penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an semakin rendah hasil belajar siswa. Untuk menguji hipotesis penelitian ini maka digunakan analisis regresi linear ganda dan korelasi ganda.
 Berdasarkan hasil analisis regresi linear ganda antara pasangan penguasaan tajwid (variabel X1) dan penguasaan tilawah al-Qur’an (X2) dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan diperoleh nilai koefisien regresi b1X1 sebesar 0,575  dan nilai koefisien kedua sebesar 0,344 nilai konstanta a sebesar 6,013. Dengan demikian maka bentuk hubungan antara penguasaan tajwid (X1) dan penguasaan tilawah al-Qur’an (X2) dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan (Y) dapat ditunjukkan dengan persamaan  Ŷ = 6,013 + 0,575 X1 + 0,344X2. Nilai 6,013 pada persamaan tersebut menyatakan bahwa tanpa ada variabel penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an maka telah tersedia potensi hasil belajar siswa sebesar 6,013. Persamaan regresi tersebut dapat diartikan pula setiap kenaikan satu satuan penguasaan tajwid akan diikuti peningkatan hasil belajar siswa sebesar 0,575 dan setiap kenaikan satu satuan penguasaan tilawah al-Qur’an maka terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 0.344. Selanjutnya dari hasil pengujia tersebut  di atas juga  menunjukkan koefisien korelasi R sebesar 0,775. Kofien tersebut signifikan karena setelah diuji dengan F-test diperoleh harga F sebesar 24,093 dengan signifikan 0,000, dimana pada taraf signifikan (α) = 0,05 berarti H0 ditolak. Dengan demikian berarti terdapat hubungan positif  antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.


Pembahasan Hasil Penelitian
1.      Hubungan Penguasaan tajwid  dengan  hasil belajar siswa pad bidang studi al-Qur’an dan Hadits (X1)
Hasil pengujian dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi linear sederhana diperoleh koefisien  korelasi  R sebesar  0,737 . Koefisien tersebut  setelah di uji dengan F- test diperoleh harga F sebesar 39,152 dengan  signifikan  0,000  kurang dari 0,05 dimana pada taraf signifikan 0,05, berarti H0 ditolak. Dengan demikian terdapat hubungan positif antara penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa pada bidang studi  al-Quran dan Hadits.
Penguasaan Tajwid merupakan suatu kecakapan dalam rangka menata kata demi kata atau kalimat demi kalimat guna tercapainya tingkat keterbacaan al-Qur’an dengan sempurna. Dengan bantuan  tajwidlah maka  tata cara membaca al-Qur’an dapat dipahami. Begitu pentingnya keberadaan tajwid terhadap pembacaan al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena persoalan tajwid sangat erat kaitannya dengan makna bacaan al-Qur’an yang dibaca. Betapa tidak, jangankan salah membaca kata atau kalimat, salah membaca mahrajul huruf saja dalam melafazhkannya sudah barang tentu memiliki makna yang berbeda. Oleh karenanya  wajiblah dipelajari tajwid  itu agar terhindar dari kesalahan ketika membaca al-Qur’an. Baik dibaca dalam melaksanakan shalat maupun diluar pelaksanaan shalat.
Hasil pengujian atau analisis tersebut di atas dapat pula dijelaskan bahwa penguasaan tajwid dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits memilki berbagai keterkaitan antara satu dengan yang lainnya, salah satunya bila dihubungkan dengan kondisi atau realiatas proses pembelajaran al-Qur’an dan Hadits. Dalam kaitan itu dapat dibuktikan bahwa potongan ayat-ayat al-Qur’an yang diajarkan pada mata pelajaran al-Qur’an dan Hadits sangat sulit bahkan tidak dapat dipahami secara sempurna tampa ditunjang oleh alat ilmu yang disebut dengan ilmu tajwid.
                  Oleh karenanya, keterkaitan itu dapat pula dinyatakan bahwa belajar al-Qur’an dan Hadits maka syaratnya wajib belajar tajwid. Sedangkan belajar tajwid berarti belajar tata cata untuk membaca al-Qur’an maupun Hadits.
2.      Hubungan Penguasaan Tilawah Al-Qur’an dengan Hasil Belajar Siswa pada Bidang Studi  Al-Qur’an dan Hadits
Hasil pengujian dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi linear sederhana diperoleh koefisien korelasi R sebesar 0,688. Koefisien tersebut setelah diuji dengan F-tes diperoleh harga F sebesar 29,647 dengan signifikan 0,000, yang  kurang dari 0,05, dimana taraf signifikan 0,05, artinya H0 ditolak. Dengan demikian hasil pengujian tersebut menunjukkan terdapatnya hubungan positif antara penguasaan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
Tilawah al-Qur’an dan tajwid termasuk dua rangkaian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan bidang studi al-Qur’an dan Hadits, keberadaanya serupa tetapi tidak sama. Dimana tajwid membicarakan tentang tata cara yang berkaitan dengan hukum-hukum bacaan al-Qur’an, sedangkan tilawah al-Qur’an lebih fokus pada bagaimana membaca tata cara tersebut.
3.      Hubungan Penguasaan Tajwid dan Tilawah Al-Qur’an secara bersama-sama  dengan  Hasil Belajar Siswa pada Bidang Studi  Al-Qur’an dan  Hadits
Berdasarkan hasil pengujian penelitian dengan menggunakan regresi ganda tersebut di atas diperoleh koefisien korelasi R sebesar 0,775. Koefisien tersebut setelah diuji dengan F-test diperoleh harga F 24,093 dengan signifikan 0,000, lebih kecil dari 0,05, dimana taraf signifikan 0,05 H0 ditolak. Dengan demikian terdapat hubungan positif yang sangat signifikan  antara penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi  al-Qur’an dan Hadits. Dengan perkataan lain, bahwa baik penguasaan tajwid maupun  penguasaan tilawah al-Qur’an (secara bersama-sama) memilki hubungan positif dengan  hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits, masing-masing menunjukkan adanya korelasi yang cukup signifikan. Hal itu mengindikasikan bahwa penguasaan tajwid dan tilawah al-Qur’an secara bersama-sama pun tetap terdapat adanya keterkaitan atau korelas diantara ketiganya.
Hubungan tajwid, tilawah al-Qur’an, dan al-Qur’an dan Hadits lebih dipengaruhi  oleh adanya aspek lingkungan pengetahuan yang sama atau wilayah keterampilan yang sama. Sebagaimana yang diyakini olen Anderson yang dikutip oleh Syah, bahwa  pengaruh positif hanya akan terjadi pada diri seseorang siswa apabila dua wilayah pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari siswa tersebut menggunakan dua fakta dan pola yang sama, dan membuahkan hasil yang sama pula. Dengan perkataan lain, dua domain tersebut merupakan sebuah pengetahuan yang sama.
Hubungan antara tajwid dan tilawah al-Qur’an dengan al-Qur’an dan Hadits bukan didasarkan adanya elemen atau bentuk yang sama. Tetapi hubungan itu lebih pada struktur logika yang sama.
Berdasarkan temuan, pengujian atau analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara penguasaan Tajwid dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits. Hubungan itu dikategorikan sangat kuat. Artinya, semakin tinggi penguasaan tajwid yang dimiliki oleh siswa akan meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi tersebut.
2.      Terdapat hubungan atau korelasi yang sangat signifikan antara penguasaan Tilawah al-Qur’an dengan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits. Hubungan itu dikategorikan sangat kuat. Artinya, semakin baik penguasaan tilawah al-Qur’an akan meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.
3.      Terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan Tajwid dan Tilawah al-Qur’an secara bersama dengan hasil belajar al-Qur’an dan Hadits. Hubungan itu dikategorikan sangat kuat. Artinya, semakin tinggi penguasaan tajwid dan semakin baik penguasaan tilawah al-Qur’an akan meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi al-Qur’an dan Hadits.







                        [1] Said Agil Husin Al Munawar, Al-Qur’an  Membangun Tradisi Kesalehan  Hakiki, (Jakarta: Ciputat
               Press,   2005)  hlm. 3
                       [2] Normah Ali, Urgensi IlmuTajwid Dalam Memasyaraktkan Al-Qur’an, (Jakarta: Al-Qushwa,1990) 
          hlm. 34
                        [3] Misbachul Munir, Pedoman Lagu-Lagu Tilawatil Qur’an, (Surabaya: Apollo, 1995) hlm. 10
        

[4]  Panduan KTSP, Penulisan dan Analisis Butir Soal, Bagian Kurikulum MAN I Kendari, 2011
    [5] Muhammad Abdul Halim, Memahami al-Qur’an Pendekatan Gaya dan Tema, (Bandung: Marja,
 2002 )  hlm. 14
    [6]  Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995)  hlm 7
[7]  Abdul Halim, Op. Cit.  hlm 244
                [8] Anton, M. Mulyono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2005)  hlm. 33
                     [9]Andi Suriadi, Tajwid Qiro’ah, Cara Cepat Belajar dan Mngajar Tajwid Tanpa Menghafal, Yayasan
         Foslamic, (2012 ) hlm.  1
                     [10]  Anton M. Mulyono,  Op.  Cit.  hlm. 992
                     [11]  Normah Ali, Op. Cit.  hlm. 1
  [12]  Moh. Wahyudi, Ilmu Tajwid Plus, (Surabaya: Halim Jaya, 2007) hlm. 2
                          [13]  Abdullah Asy’ari,  Pelajaran  Tajwid,  Qaidah  Bagaimana  Seharusnya  Membaca  al-Qur’an,
         (Surabaya: Apollo, 1987)  hlm, 7
[14]  Alu Syaikh, Op. Cit. hlm. 241
[15]   Wahyudi, Op. Cit. hlm. 14
[16]  Muhsin Salim, Op.   Cit.  hlm.  1
                          [17]  Budiono dan Wayan Kaster, Teori dan Aplikasi Statistika dan Probabilitas. Sederhana, Lugas
         Dan Mudah  Dimengerti, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 170

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda